Tahun 2018 merupakan masa yang menarik bagi pencinta hp. Tahun ini menandai diperkenalkannya desain layar hp yang semakin menutupi area body. Setiap vendor, kecuali Sony berlomba-lomba mengejar screen to body ratio tertinggi.
Namun dengan keterbatasan teknologi saat ini, para desainer masih harus berkompromi. Kamera depan, earpiece cutout, dan proximity sensor membutuhkan ruang dan membuat desainer hp terpaksa mengorbankan sebagian bidang yang bisa dipakai untuk menjadi layar.
Kompromi ini dipopulerkan Apple iPhone X pada tahun 2017 dengan desain notch yang sekilas mirip hp berponi. Pada tahun 2018, para produsen dari Tiongkok yang memang tidak malu untuk menjadi follower pun mentah-mentah mencontek desain notch ini. Sebut saja Oneplus 6 & 6T, Xiaomi Redmi series, Oppo Find series dan Vivo V series.

Sejauh ini, notch cukup sukses untuk tidak mempengaruhi fungsionalitas dan pengoperasian hp. Ketika menonton Youtube, misalnya. Format video yang muncul umumnya adalah 16:9 sehingga tampilan tidak sampai terpotong oleh notch. Aplikasi lain ketika dioperasikan secara landscape juga tidak terganggu karena pada sisi notch-nya dikosongkan dengan warna hitam, sehingga seolah-olah tidak ada notch di situ.
Nah, itu dia masalahnya, notch itu tidak berguna, sehingga para developer aplikasi selalu mencari cara agar tonjolan itu tidak terlihat. Pendapat pribadi, saya terganggu dengan tonjolan poni itu.
Saya memprediksi arah tren berubah. Perkenalkan desain layar yang digosipkan dipakai oleh Samsung Galaxy S10 dan bakal hits di tahun 2019, punch hole screen, yang sering juga disebut in-screen camera hole display.

Agar obsesi screen to body ratio 100% tercapai, earpiece dan proximity sensor dihilangkan. Ralat, bukan dihilangkan, tetapi diganti dengan teknologi yang tidak membutuhkan ruang.

Untuk menggantikan suara yang dikeluarkan melalui earpiece, digunakan layar piezoelectric yang dapat mengkonversi energi listrik menjadi gelombang suara. Dengan kata lain suara dihantarkan langsung oleh layar hp, bukan melalui lubang kecil atau speaker. Sebagai informasi, teknologi ini ngga baru-baru amat, sudah dipakai di Xiaomi Mi Mix yang dipasarkan pada akhir 2016 lalu.
Lalu bagaimana dengan proximity sensor? Ke depannya, perangkat sensor ini tidak diperlukan lagi alias dibuang. Penggantinya adalah AI dan algoritma pada software hp yang dapat mendeteksi wajah dan telinga ketika mendekati atau menyentuh layar. Sehingga pada saat percakapan, layar telepon dapat secara otomatis dimatikan ketika telinga menyentuh layar. Teknologi ini sudah dimanfaatkan pada Oppo Find X, flagship yang diperkenalkan pada pertengahan tahun 2018.

Yang tersisa tinggal kamera, hingga saat ini belum ada solusi yang benar-benar membuat kamera-depan bisa diletakkan di bawah layar. Oleh sebab itu, untuk tahun 2019, desain punch hole screen adalah solusi terbaik untuk mendekati obsesi screen to body ratio 100%.
Kalangan gadget-freak internasional percaya bahwa desain ini akan digunakan Samsung untuk flagship-nya, bahkan Apple iPhone pun juga digosipkan akan mengadopsi desain punch hole screen.

Bagaimana pendapatmu? mana yang lebih disuka, apakah desain notch ala iPhone X, solusi waterdrop notch ala hp dari Tiongkok, atau mungkin sujud syukur dengan adanya desain punch hole screen? Silakan komen di kolom bawah ya.
Sumber : GSMArena, XDA, ETNews, TheInvestor, AndroidPit


0 comments on “Seperti ini Desain Samsung Galaxy S10, Tren Layar Handphone 2019”